Ragu Menentukan Laba Usaha Mari Simak Ketentuan Laba Sesuai dengan Syariat Islam

Ragu Menentukan Laba Usaha? Mari Simak Ketentuan Laba Sesuai dengan Syariat Islam

Membangun sebuah usaha memang harus menentukan beberapa hal, baik dari permasalahan kecil hingga besar. Permasalahan ini harus bisa di persiapkan dengan benar oleh orang yang ingin mengadakan perniagaan. Karena dalam membuat sebuah usaha dibutuhkan rencana yang matang agar dapat menghasilkan hasil yang maksimal. Sama halnya dengan menentukan laba usaha, jangan sampai usaha kita jauh dari laba yang halal. Ketika sebuah usaha tidak sesuai dengan ketentuan laba yang sebenarnya, maka keberkahan diusaha tersebut akan sia-sia. Untuk itu, islam mengajarkan beberapa dasar dalam mengukur sebuah laba sesuai dengan syariat baik usaha kecil hingga usaha besar. Bagi kalian yang beragama muslim tentu dianjurkan sekalian mengambil laba usaha sesuai dengan syariat islam. Oleh karena itu, berikut beberapa dasar pengukuran laba dalam islam.

Ragu Menentukan Laba Usaha Mari Simak Ketentuan Laba Sesuai dengan Syariat Islam

  1. Taqib dan Mukhatarah (interaksi dan resiko), Laba usaha merupakan sebuah hasil dari perputaran modal dalam transaksi bisnis, seperti menjual dan membeli , atau jenis-jenis lainnya yang diperbolehkan dalam syariat. Oleh karena itu, pasti terdapat kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat menimbulkan resiko atau bahaya yang dapat menimpa modal yang nantinya akan menyebabkan pengurangan modala pada suatu putaran dan pertambahanan pada putaran lain. tidak dibenarkan untuk menjamin pemberian laba dalam perusahaan mudharaba dan musyarakah.
  2. Al-Muqabalah, sebuah perbandingan antara jumlah hak milik pada akhir periode dan awal periode yang sama, atau dengan membandingkan nilai barang yang ada pada akhir periode dengan nilai barang pada awal periode yang sama. Bisa juga dengan membandingkan pendapatan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan pendapatan dengan biaya yang dikeluarkan dalam mendapatkan income.
  3. Laba dari produksi, pada dasarnya jual beli dan pendistribusian, yaitu pertambahan yang terjadi selama setahun dari aktivitas berniaga dengan pergantian barang menjadi uang dan uang menjadi barang dan seterusnya, maka barang yang belum sempat terjual di akhir periode tahun tetap mencakup pertambahan yang menunjukkan perbedaan antara harga yang pertama dan nilai harga yang sedang berlaku. Berdasarkan nilai ini, ada dua cara dalam menghitung laba pada akhir tahun , yaitu laba dari proses jual beli dalam setahun dan laba suplemen, baik yang nyata maupun abstrak meskipun barang belum terjual.
  4. Keutuhan modal pokok, ketika laba tidak akan tercapai kecuali setelah utuhnya modal pokok dari segi kemampuan secara ekonomi sebagai alat penukar barang yang telah dimiliki dari awal kita berbisnis.

Baca juga: Inilah 4 Bisnis yang Bisa Dijadikan Investasi Jangka Panjang

Demikian tadi beberapa ketentuan laba usaha menurut syariat islam. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kalian dalam berusaha untuk tidak memakan laba haram yang tidak dianjurkan dalam agama islam. Semoga bermanfaat bagi kalian pengusaha muda sukses.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *